Efforts to Achieve the Net Zero Emission Target
2024-11-19 by Fatur - Publication'23

English:
Have you ever heard of Net Zero Emission? That’s right, Net Zero Emission is a program aimed at ensuring the total amount of greenhouse gases released into the atmosphere is equal to the amount absorbed from it. This is an aspiration shared by countries around the world, as the ultimate goal is to prevent further global warming. Imagine if we think of total greenhouse gas emissions as spilled water—ideally, there would be a way to absorb this spilled water so it doesn’t spread. Similarly, the goal of Net Zero Emission is to prevent an increase in greenhouse gases in the atmosphere. Since the late 19th century, the global average temperature has risen by 1.1°C. The Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) reports that without drastic reductions in greenhouse gas emissions, temperatures could rise to 1.5°C or even 2°C above pre-industrial levels in the coming decades [1]. Imagine how dangerous this would be if it is not prevented!
Therefore, the United Nations (UN) set a target to achieve Net Zero Emission by 2050 through the Paris Agreement in 2015. For Indonesia, the government has committed to reaching Net Zero Emission by 2060 or sooner. Achieving this requires taking concrete steps and applying them within Indonesia. It’s certainly not easy, but several regions have already provided excellent examples of implementing sustainable systems for the future of humanity, such as Green and Integrated Transportation (like Electric Buses), Smart Waste Management, and Renewable Energy Infrastructure.
One interesting initiative is the development of infrastructure that uses renewable energy. A concrete example can be found in Bali and Nusa Tenggara. Solar Power Plants (PLTS) have been installed on the rooftops of government office buildings. Ngurah Rai Airport, an international airport in Bali, has also installed solar power on its roof to support its operations [2]. Moving eastward, in West Nusa Tenggara and East Nusa Tenggara, the government has installed shared solar power plants to provide electricity to areas there. This installation helps communities without access to the national grid (PLN) and reduces the use of diesel fuel in generators, which are more expensive and harmful to the environment.
PLTS, short for Pembangkit Listrik Tenaga Surya (Solar Power Plant), is a tool or instrument for generating electricity using sunlight. It works similarly to hydroelectric power plants, which generate electricity by driving turbines with flowing water. In a PLTS, sunlight, which consists of energy packets, strikes the solar panels, causing electrons to "bounce" and flow. Electric current is defined as the movement of charge over time. When sunlight collides with electrons and makes them move, an electric current is generated. Although there are many complex aspects involved, this is the basic principle behind electricity generation. Sunlight, as an inexhaustible resource, can be utilized in this way.
However, aside from the efforts already undertaken by the government, we all have a duty to help Indonesia and the entire planet protect the sustainability of life on Earth. Small actions, such as disposing of waste properly, planting trees, reducing fuel usage, and many other small steps, can make a difference. Ultimately, this is our home, and it’s up to us to protect it for future well-being.
Indonesian:
Pernahkah mendengar terkait Net Zero Emission? Benar, Net Zero Emission merupakan salah satu program yang bertujuan agar jumlah total gas rumah kaca yang dilepaskan ke Atmosfer sama dengan yang diserap dari sana. Hal ini merupakan cita-cita seluruh negara di dunia, karena tujuan akhirnya adalah mencegah pemanasan yang semakin tinggi. Seandainya total gas rumah kaca yang dilepaskan ini kita anggap sebagai air yang kita tumpahkan, diharapkan akan ada penyerap air tumpah ini sehingga tidak membasahi sekitar. Begitu pula dengan Net Zero Emission ini, tujuannya agar gas rumah kaca di atmosfer tidak bertambah setiap waktunya. Sejak akhir abad ke-19, suhu rata-rata global meningkat 1,10C. Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) melaporkan bahwa tanpa pengurangan drastis emisi gas rumah kaca, suhu bisa meningkat hingga 1,50C atau bahkan 20C di atas level pra-industri dalam beberapa dekade mendatang [1]. Bayangkan betapa berbahayanya jika hal ini tidak dicegah!
Oleh karena itu, perserikatan bangsa-bangsa atau PBB dalam dalam Perjanjian Paris 2015 menargetkan Net Zero Emission ini agar dapat tercapai pada tahun 2050. Untuk Indonesia sendiri, Pemerintah Indonesia berkomitmen untuk mencapai Net Zero Emission pada tahun 2060 atau lebih cepat. Tentunya untuk mewujudkan hal tersebut harus ada langkah yang diambil dan diterapkan di Indonesia. Tidak mudah memang, namun beberapa daerah sudah memberikan contoh yang bagus terkait dengan penerapan sistem yang berkelanjutan untuk masa depan umat manusia. Transportasi Hijau dan Terintegrasi (Seperti Bus Listrik), Pengolahan Sampah Cerdas, dan Infrastruktur Energi Terbarukan.
Salah satu hal menarik di sini adalah pembangunan infrastruktur yang menggunakan energi terbarukan. Contoh nyatanya terletak di daerah Bali dan Nusa Tenggara. Penerapan PLTS (Pembangkit Listrik Tenaga Surya) yang di pasang di atap-atap kantor gedung pemerintahan. Bandara Ngurah Rai, salah satu Bandara Internasional di Bali juga telah memasang PLTS di atas atapnya untuk mendukung operasional [2]. Bergeser ke arah timur, di Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur, pemerintah memasang PLTS yang digunakan bersama untuk menyediakan listrik bagi daerah di sana. Adanya pemasangan ini membantu mereka yang masih belum terjangkau oleh PLN dan mengurangi penggunaan bahan bakar diesel pada generator yang sebenarnya lebih mahal dan berbahaya bagi lingkungan sekitar.
PLTS, merupakan kepanjangan dari Pembangkit Listrik Tenaga Surya merupakan salah satu alat atau instrumen untuk menghasilkan listrik dengan menggunakan cahaya matahari. Pada dasarnya, seperti pembangkit listrik tenaga air yang menggerakkan turbin dengan menggunakan aliran air yang melewatinya. Pada PLTS ini, cahaya matahari yang terdiri dari paket-paket dengan energi tertentu akan menumbuk panel surya dan membuat elektron “terpental” dan bergerak mengalir. Arus listrik sendiri di definisikan sebagai muatan yang bergerak dalam satuan waktu. Elektron yang bergerak setelah ditabrak oleh cahaya matahari ini akan menghasilkan arus listrik pula. Secara prinsip, proses terbentuknya listrik seperti kejadian tersebut. Meskipun masih banyak hal kompleks yang terkandung di dalamnya. Cahaya matahari yang merupakan salah satu sumber daya yang tidak akan pernah habis tentunya dapat dimanfaatkan di sini.
Akan tetapi, terlepas dari apa yang sudah di jelaskan sebelumnya terkait dengan upaya yang sudah dilakukan oleh Pemerintah kita semua juga berkewajiban untuk membantu Indonesia dan seluruh penduduk bumi untuk menjaga keberlangsungan kehidupan di muka bumi ini. Hal-hal kecil seperti membuang sampah pada tempatnya, menanam pohon, mengurangi penggunaan bahan bakar, dan banyak hal kecil lainnya yang bisa dilakukan. Pada akhirnya, di sinilah kita tinggal dan inilah yang harus kita jaga demi kesejahteraan ke depannya.
Sources:
[1] P. Zhai et al., “Special Report on Global Warming of 1.5 °C” 2018. Available: https://www.ipcc.ch/site/assets/uploads/2023/06/SR15_Citation.pdf.
[2] I Wayan Sukadana, A. Anto, and I Made Asna, “Proyeksi Potensi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Dalam Mendukung Program Ecogreen Airport Di Bandar Udara I Gusti Ngurah Rai Bali,” JTEV (Jurnal Teknik Elektro dan Vokasional), vol. 8, no. 2, pp. 250–250, Jun. 2022, doi: https://doi.org/10.24036/jtev.v8i2.116721.
You might also like

Smart Home 2.0: The Convergence of IoT Protocols and Seamless Living
Smart homes evolve automation via IoT for better efficiency, security, and health, despite integration challenges.
Find out more →
The Evolution of Automation: From Classical Control Systems to AI-Driven Paradigm
Industrial automation has evolved from rigid systems to a hybrid future combining classical control precision with AI.
Find out more →