Building a Smart and Sustainable Indonesia: The Role of Green Technology and its Challenges
2024-11-05 by Jims - Publication'23

English:
Did you know, Indonesia as a country has a goal to increase the share of renewable energy (EBT) to 23% by the year 2025. One way the Indonesian government is attempting to do so is by the use of green technology. So what is this green technology? Green technology is defined as technology that is intended to minimize negative impact on the environment, as such green technology aims to reduce resource consumption, mitigate climate change, and decrease pollution [1].
Many cities have adopted a smart-city infrastructure which may include electric vehicle accommodation, e-government services, and renewable energy integration [2]. Many of these implementations are relevant in public service technologies. In Indonesia, we can observe through our own eyes how more and more government services have been digitized. In a way, this can be considered green technology as it reduces the usage of resources such as paper. The integration of renewable energy is also vital to the success of green technology integration in public service. TransJakarta and TMP’s electric buses are a good start to pave the way for more public transportation powered by renewable energy. These electric buses help reduce carbon emission and improve air quality, which will be very helpful in cities with high levels of air pollution such as Jakarta. The Indonesian government always encourages the public to buy and use more electric vehicles. One way the government supports this policy is by implementing subsidies for electric vehicles. They have also constructed many electric vehicle charging stations (SPKLU) around big cities.
Indonesia has also adopted a new green public infrastructure policy. Many public infrastructure such as the City Hall of Jakarta and the Bali-Mandara toll road implement solar panels (PV) as a way to generate clean and renewable energy [3]. The green innovations can be found in other big cities such as Surabaya and Bandung, where a new proposal is to transform waste into clean and usable energy. The project aims to reduce waste in landfills while converting them to a more useful form, energy in this case. The biogas and steam produced from waste management in landfills can in turn be used to generate electricity. This project is cited to also reduce greenhouse gas emission [4]. Those are some examples of green technology integration in Indonesia.
Of course, with all new innovations, there will be challenges. As you may have noticed, all of these innovations are currently only focused on several big cities in Indonesia. There are several factors why this is the case. Firstly, the technological gap between regions makes it hard to implement some of the innovations without the pre-existing infrastructure needed. Secondly, as always, high initial investment and cost is a big factor on why the progression of green technology in Indonesia is so slow. Lastly, while the national government consistently tries to encourage the implementation of green technology, the final execution lies with the regional government which has been very inconsistent regarding implementation of green innovations. The geodiversity of Indonesia itself proves to be a challenge, as innovations that may work in Java may not work in other islands such as Sumatra or Kalimantan. That’s why we the public must actively support the implementation of green technology to ensure a sustainable future.
Indonesian:
Tahukah Anda, Indonesia sebagai negara memiliki tujuan untuk meningkatkan porsi energi baru terbarukan (EBT) menjadi 23% pada tahun 2025. Salah satu cara yang dilakukan pemerintah Indonesia untuk mencapai hal tersebut adalah dengan menggunakan teknologi hijau. Jadi, apa itu teknologi hijau? Teknologi hijau didefinisikan sebagai teknologi yang bertujuan untuk meminimalkan dampak negatif terhadap lingkungan, dengan tujuan untuk mengurangi konsumsi sumber daya, mengurangi perubahan iklim, dan mengurangi polusi [1].
Banyak kota telah mengadopsi infrastruktur kota pintar yang mencakup akomodasi kendaraan listrik, layanan e-government, dan integrasi energi terbarukan. Banyak dari penerapan ini relevan dalam teknologi layanan publik [2]. Di Indonesia, kita dapat melihat sendiri bagaimana semakin banyak layanan pemerintah yang telah didigitalisasi. Dengan cara ini, hal ini bisa dianggap sebagai teknologi hijau karena mengurangi penggunaan sumber daya seperti kertas. Integrasi energi terbarukan juga penting untuk keberhasilan integrasi teknologi hijau dalam layanan publik. Bus listrik TransJakarta dan TMP adalah langkah awal yang baik untuk membuka jalan bagi lebih banyak transportasi publik yang didukung oleh energi terbarukan. Bus listrik ini membantu mengurangi emisi karbon dan meningkatkan kualitas udara, yang akan sangat membantu di kota-kota dengan tingkat polusi udara yang tinggi seperti Jakarta. Pemerintah Indonesia juga selalu mendorong masyarakat untuk membeli dan menggunakan lebih banyak kendaraan listrik. Salah satu cara pemerintah mendukung kebijakan ini adalah dengan memberikan subsidi untuk kendaraan listrik. Mereka juga telah membangun banyak stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU) di sekitar kota-kota besar.
Indonesia juga telah mengadopsi kebijakan infrastruktur publik hijau yang baru. Banyak infrastruktur publik seperti Balai Kota Jakarta dan jalan tol Bali-Mandara telah menerapkan panel surya (PV) sebagai cara untuk menghasilkan energi bersih dan terbarukan [3]. Inovasi hijau lainnya dapat ditemukan di kota-kota besar seperti Surabaya dan Bandung, di mana ada proposal baru untuk mengubah sampah menjadi energi bersih dan dapat digunakan. Proyek ini bertujuan untuk mengurangi sampah di tempat pembuangan akhir sambil mengonversinya menjadi bentuk yang lebih bermanfaat, yaitu energi. Biogas dan uap yang dihasilkan dari pengelolaan sampah di tempat pembuangan akhir dapat digunakan untuk menghasilkan listrik. Proyek ini juga disebut-sebut mampu mengurangi emisi gas rumah kaca [4]. Itulah beberapa contoh integrasi teknologi hijau di Indonesia.
Tentu saja, dengan semua inovasi baru, akan ada tantangan. Seperti yang mungkin Anda perhatikan, semua inovasi ini saat ini hanya terfokus pada beberapa kota besar di Indonesia. Ada beberapa faktor mengapa hal ini terjadi. Pertama, kesenjangan teknologi antar wilayah membuat sulitnya mengimplementasikan beberapa inovasi tanpa infrastruktur yang sudah ada. Kedua, seperti biasa, investasi awal dan biaya yang tinggi merupakan faktor besar mengapa kemajuan teknologi hijau di Indonesia berjalan lambat. Terakhir, meskipun pemerintah pusat secara konsisten mendorong penerapan teknologi hijau, pelaksanaan akhir tetap berada di tangan pemerintah daerah, yang seringkali kurang konsisten dalam menerapkan inovasi hijau. Keanekaragaman geografi Indonesia sendiri menjadi tantangan, karena inovasi yang berhasil di Pulau Jawa mungkin tidak berhasil di pulau lain seperti Sumatra atau Kalimantan. Oleh karena itu, kita sebagai masyarakat harus secara aktif mendukung penerapan teknologi hijau untuk memastikan masa depan yang berkelanjutan.
Sources:
[1] P. Bradu et al., “Retraction Note: Recent advances in green technology and Industrial Revolution 4.0 for a sustainable future,” Environ. Sci. Pollut. Res. Int., vol. 31, no. 33, p. 46125, Jul. 2024.
[2] G. Pasolini et al., “Smart City Pilot Projects Using LoRa and IEEE802.15.4 Technologies,” Sensors , vol. 18, no. 4, Apr. 2018, doi: 10.3390/s18041118.
[3] “Panel Surya di Seluruh Atap Gedung Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.” Accessed: Sep. 25, 2024. [Online]. Available: https://www.infopublik.id/kategori/sorot-ekonomi-bisnis/406961/panel-surya-di-seluruh-atap-gedung-pemerintah-provinsi-dki-jakarta
[4] A. Budiman, N. Dewayanto, and W. A. Wibowo, Waste to Energy: Teknologi Pengolahan Sampah menjadi Energi. UGM PRESS, 2024.
You might also like

Smart Home 2.0: The Convergence of IoT Protocols and Seamless Living
Smart homes evolve automation via IoT for better efficiency, security, and health, despite integration challenges.
Find out more →
The Evolution of Automation: From Classical Control Systems to AI-Driven Paradigm
Industrial automation has evolved from rigid systems to a hybrid future combining classical control precision with AI.
Find out more →
Efforts to Achieve the Net Zero Emission Target
Explain and provide examples of action to achievethe Net Zero Emission.
Find out more →